INDONEWSTODAY.COM - Jutaan pengguna dan konsumen jual beli di internet dan nasabah perbankan masih memiliki risiko kejahatan, termasuk penipuan dan pencurian identitas karena mereka menggunakan password yang tidak cukup aman dalam standar yang diukur.
Seperti yang dilansir dari DailyMail hari ini (16/10/2014), sebesar 75 persen dari orang-orang membuat sandi yang mudah ditebak. Hal ini berpotensi untuk penipuan di dunia internet yang telah meningkat sebesar 71 persen untuk kisaran transaksi sebesar 29 .3 juta euro.
Menurut penelitian, lebih dari jutaan pembelanja online dan nasabah bank internet berada pada risiko penipuan, pencurian identitas, dan pemerasan karena mereka tidak mampu untuk melindungi akun dengan password yang aman. Sebanyak 75 persen dari orang-orang tidak membuat password yang kompleks, mereka berpotensi akan menjadi korban dari serangan hacker yang dapat merebut kartu kredit atau rincian bank, informasi pribadi atau foto.
Hasil Studi tentang Keamanan Data
Dari hasil sebuah studi menemukan 2/3 dari responden mengalami potensi gangguan keamanan online mereka dengan tidak menggunakan simbol dan hampir setengah dari mereka yang menggunakan sandi yang ditebak password seperti nama anak-anak mereka, 'Iloveyou' atau '123456'.
Jamie Saunders, dari unit Direktur Badan kejahatan Nasional Nasional Cyber Crime mengungkapkan bahwa, "Kita harus jelas bahwa cyber akan menargetkan kelemahan dari sebuah sandi dan karena itu memiliki lemah password yang lemah akan berbahaya bagi pemilik datanya."

0 comments:
Post a Comment