AsliCirebon.com - Penutupan
aktifitas bongkar muat batubara yang sudah dilakukan hampir dalam 3 bulan
terakhir di pelabuhan Cirebon ternyata berdampak luas bukan hanya untuk
masyarakat Cirebon yang langsung bekerja di industry batubara ternyata sampai
ke industry lain dan bahkan lintas kota juga merasakan dampak tersebut.
Salah satunya adalah industry batik
yang ada di Pekalongan, mereka sangat bergantung kepada bahan bakar yang berupa
batu bara yang disuplai dari kota Cirebon. Sedangkan saat ini ditutup aktivitas
bongkar muat, sehingga menyulitkan pengrajin untuk memproduksi batik tulis
maupun batik printing.
“Sebetulnya produksi batik non
tulis atau printing, dan industri tekstil di Pekalongan sedang sangat tinggi,
tetapi karena suplai bahan bakar batubara dari Cirebon ditutup, maka mengalami
kesulitan. Ini yang terjadi di Pekalongan,” Ujar Ketua Fraksi PDIP DPRD
Pekalongan, Moh Nurkholis .
Ketua Fraksi PDIP DPRD Pekalongan,
Moh Nurkholis menambahkan bahwa di Pekalongan sendiri setiap pabrik batik
membutuhkan sampai 500 ton per bulan, angka tersebut tidak main – main karena
bisa mematikan industry kecil yang ada di Pekalongan khususnya.
“Batuabara sangat vital untuk
pabrik-pabrik tekstil dan batik, sebagai penopang kehidupan ekonomi di wilayah
Pekalongan. Kebutuhan pabrik terhadap batubara, yang jelas, ada pabrik yang
sampai membutuhkan sekitar 500 ton per bulan. Untuk itu Pekalongan sangat
terguncang,” Tambahnya.
Sebenarnya terdapat daerah lain
yang bisa mensuplai kebutuhan batubara tersebut seperti Semarang, namun harga
disana jauh lebih tinggi. Maka dari itu dirinya memohon bantuan agar pihak
pemerntah kota Cirebon memperlancar distribusi batu bara kembali.
“Sebetulnya kami memohon bantuan
kepada Kota Cirebon untuk memperlancar lagi aktivitas batubara, jika tidak ada
mitra distribusi batubara sangat sulit, apalagi yang menentukan harga batubara
hanya di Semarang saja,” Lanjutnya.

0 comments:
Post a Comment