AsliCirebon.com - Banyak protes
mengenai keberadaan taksi online yang dianggap oleh sebagian pengemudi taksi
konvensional sebagai mush paling besar. Selain harga yang sangat murah, taksi
berbasiskan aplikasi juga memberikan beberapa pelayanan yang ada.
Untuk menghindari perselisihan
antara taksi online dan taksi konvensional maka diadakan pertemuan pada Rabu
(27/4) antara pemilik perusahaan aplikasi yang mengoperasikan taksi
berbasis aplikasi bersama Organisasi Angkutan Darat (Organda) DKI Jakarta,
akademis, kepolisian danstakeholder lainnya yang berkecimpung di dunia
transportasi.
Pertemuan tersebut bertujuan untuk
menyatukan visi dengan para pebisnis aplikasi agar tidak ada persaingan yang
tidak sehat pada maslaah harga.
“Dalam pertemuan tersebut, kami
akan menanyakan kepada pebisnis aplikasi mengenai segmentasi bisnis yang
dikerja samakan dengan mitranya,” Ujar Kepala Dishubtrans DKI Jakarta,
Andri Yansyah.
Andri menambahkan bahwa dalam
bisnis yang sama dilarang adanya persaingan tariff yang dipatok. Sehingga bisa
mengakibatkan kecembirian sosial.
“Jadi kami pertemukan dulu dengan Organda.
Kalau mereka mau bermain di angkutan tanpa trayek seperti taksi, kami akan
tentukan tarifnya. Intinya, tidak boleh ada persaingan tarif di dalam satu
bisnis yang sama,” Tambahnya.
Andri menambahkan semua pihak harus
setuju terkait dengan aturan yang dipakai, bila memang tidak setuju maka akan
diberikan hukuman.
“Pebisnis aplikasi dan mitra harus
sepakat untuk menerima tarif yang akan ditetapkan pemerintah. Bila tidak,
sanksinya armada akan dikandangkan selamanya,” Lanjutnya.

0 comments:
Post a Comment