Latest News
Tuesday, August 4, 2015

Ribuan Hektar Sawah di Indramayu dan Cirebon Terancam Gagal Panen

Berita Ekonomi - AsliCirebon.com, Lahan seluas 7.065 hektar di Kabupaten Cirebon dan Indramayu, Jawa Barat, dipastikan gagal panen.  
 
Kekeringan yang melanda kawasan pertanian di Cirebon dan Indramayu yang merupakan lumbung padi itu mengakibatkan sawah mengering dan tanaman kekurangan air. Padi usia produktif pun gagal berbuah, dan mati di kisaran usia 2-3 bulan.

Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Cimanuk-Cisanggarung, Kasno, Selasa (4/8), mengatakan, luasan sawah 7.065 ha itu sudah tidak bisa diselamatkan lagi.

"Bahkan kalau turun hujan deras, sawah-sawah itu sudah tidak bisa diselamatkan. Padi sudah terlebih dulu mati. Saat ini yang bisa dilakukan ialah memantau kondisi cuaca dan menunggu kebijakan pemerintah selanjutnya tentang penanganan kekeringan," katanya saat ditemui di kantornya di Cirebon.

Dari 7.605 ha sawah gagal panen itu, 2.809 ha berada di Kabupaten Indramayu, dan sisanya 4.256 ha berada di Kabupaten Cirebon. Kedua kabupaten itu menikmati aliran air irigasi dari Bendung Rentang di Majalengka yang bersumber dari Sungai Cimanuk.

Pada hari Selasa ini, debit air di Cimanuk tercatat 11,6 meter kubik per detik. Jauh menurun dibandingkan pada kondisi normal 72-76 meter kubik per detik. Sungai-sungai yang melintasi areal persawahan di Cirebon dan Indramayu pun mengering sejak sebulan lalu.

Pasokan air baku untuk mandi, cuci, dan kakus (MCK) di Kabupaten Indramayu pun terkendala. Sejumlah warga berupaya membuat sumur bor untuk mengatasi hal itu.

"Saya keluar uang Rp 4 juta untuk membuat sumur bor. Tetapi, airnya tidak bisa dikonsumsi. Hanya bisa untuk cuci dan mandi," kata Tarmin (56), warga Desa Karang Mulya, Kecamatan Kandanghaur.

Ketua Dewan Air Indramayu, Karno, menuturkan, dalam kondisi air Cimanuk yang susut ini petani tidak bisa berbuat banyak. Sesuai dengan ketentuan undang-undang, penggunaan air diutamakan untuk kepentingan umum.

"Aliran air untuk MCK harus diutamakan, dan petani terpaksa mengalah dalam kondisi kekeringan seperti ini," ujar Karno yang juga Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Indramayu ini.

Optimis
Produksi padi di sektor timur Sulsel optimistis stabil. "Sejauh ini tanaman padi di sektor timur masih bagus dan sebagian besar sudah akan panen. Padi sudah berisi bulir dan memang tak lagi memerlukan air yang banyak. Dari pantauan di lapangan, tanaman yang memerlukan air masih tertolong dengan air irigasi. Sejauh ini irigasi di sektor timur masih tak terlalu bermasalah karena sesekali masih turun hujan," kata Kepala Bidang Produksi Tanaman Pangan, Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura, Sulsel, M Aris A Mappeangin.

Sektor timur yang juga menjadi sentra beras Sulsel, di antaranya, meliputi sebagian Kabupaten Bone, Soppeng, Wajo, Sidrap, Pinrang, dan beberapa kabupaten di wilayah Luwu. Pantauan menunjukkan daerah ini memang masih sesekali turun hujan. Bahkan pada awal Juni lalu, sebagian daerah Wajo, Soppeng, Sidrap, dan Luwu, terendam banjir akibat hujan deras yang berlangsung hampir sepekan.

Kari (55) menjala ikan di sisa-sisa genangan Kali Cimanuk di Desa Jangga, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Senin (3/8). Debit air Cimanuk terus menyusut dalam sebulan terakhir ini.

Sawah di Desa Bojongcantang, Kecamatan Tunjungteja, Kabupaten Serang, Banten, Selasa (4/8), dilanda kekeringan. Kemarau terjadi di Banten sejak Mei 2015 dengan luas sawah kekeringan sekitar 8.700 hektar.

Berbeda dengan sektor barat yang umumnya berada di pesisir, seperti Maros, Pangkep, Barru, Gowa, Takalar, Jeneponto, Bantaeng, hingga Bulukumba, dan Selayar yang saat ini mengalami kekeringan. Ratusan hektar padi di kabupaten Bantaeng, Sinjai, dan sebagian Bone, mengalami puso. Ini umumnya terjadi pada tanaman yang ditanam pada akhir April hingga awal Mei. Adapun tanaman yang ditanam pada awal April, masih diupayakan untuk diselamatkan.

Kelompok-kelompok tani jauh hari sudah mendapatkan bantuan pompa air untuk dimanfaatkan pada sungai, sumur dangkal, maupun sumur dalam. Namun, petani mengeluhkan biaya operasional pompa air yang cukup besar. Sebagian tak bisa digunakan karena sumber air yang memang sudah kering.

"Biaya operasionalnya mencapai 20 persen dari total biaya produksi. Ini memang agak berat bagi petani. Jadi, kami harap ke depan, jika memang upaya penyelamatan tanaman di musim kering masih dengan sistem pompa, pemerintah mungkin juga bisa memikirkan soal biaya operasional ini," kata Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan (KTNA) Sulsel, M Asri.

Saat ini sebagian besar petani sedang menjalani musim tanam II yang dimulai sepanjang April-Mei lalu, pada musim tanam I, sebanyak 570.000 ha areal ditanami dengan hasil berkisar 7 ton-9 ton gabah kering giling per ha. Sebagian bahkan menghasilkan hingga lebih 10 ton per ha. Musim tanam II ini, sebanyak 500.000 ha telah tertanami. Tahun ini target penanaman adalah seluas 1,1 juta ha. Adapun target produksi adalah 6,4 juta ton gabah kering giling atau setara 3 juta ton-3,9 juta ton beras.

Puncak kemarau
Kemarau di Banten diperkirakan berlangsung hingga akhir Oktober. Sementara, puncak kemarau diprediksi terjadi pada September mendatang.

Menurut Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banten, Komari, di Serang, Banten, Selasa, kekeringan telah terjadi di semua kabupaten/kota di Banten.

Luas sawah yang kekeringan di Pandeglang dan Lebak, masing-masing sekitar 3.000 ha. Daerah selanjutnya dengan kekeringan sawah paling luas, yakni Kabupaten Serang, sekitar 2.200 ha. Sejauh ini, 95 desa dan empat kelurahan di 61 kecamatan di Banten dilanda kekeringan. Di Banten terdapat delapan kabupaten/kota dan di masing-masing daerah itu ada kecamatan yang kekeringan.

Berdasarkan pemantauan di Desa Bojongcantang, Kecamatan Tunjungteja, Kabupaten Serang, misalnya, sawah dilanda kekeringan sejauh mata memandang. Sawah berwarna kecoklatan dan hanya ditumbuhi ilalang. Tunjungteja telah ditetapkan sebagai kecamatan yang kekeringan.

Kecamatan itu berjarak sekitar 50 kilometer di sebelah timur Kota Serang. Di Kabupaten Serang, terdapat 29 kecamatan dan 10 di antaranya kekeringan. "Jumlah daerah yang kekeringan di Banten diperkirakan bertambah pada Agustus ini," ujar Komari.

Operasi air bersih telah dilakukan pekan ini. Air bersih didistribusikan dengan mobil tangki dan ditempatkan di penampungan-penampungan. Mobil tangki yang mengirimkan air berjumlah 12 unit. Komari menambahkan, Banten belum darurat kekeringan.

"Kalau kecamatan di Banten, tidak semuanya kekeringan. Ada hampir 1.500 desa, tetapi hanya sebagian kecil yang kekeringan. Jadi, darurat kekeringan belum hingga taraf provinsi," katanya.

Waseh (45), warga Desa Bojongcantang, Kecamatan Tunjungteja, Kabupaten Serang, mengatakan, kekeringan di wilayahnya sudah terjadi hampir tiga bulan lalu. "Warga belum kesulitan mendapatkan air, tetapi kalau sawah kekeringan, sudah pasti. Saya tak tahu luas sawah yang kekeringan," katanya.
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Ribuan Hektar Sawah di Indramayu dan Cirebon Terancam Gagal Panen Rating: 5 Reviewed By: Santosa Blogger Cirebon