Berita Kemanusiaan - IndoNewsToday.com, Meninggalnya Angeline (8) dengan cara yang cukup tragis membuat duka yang mendalam bagi keluarganya yang ada di Kabupaten Banyuwangi. Rumah neneknya, Misya (62) di RT 05, RW 03, Dusun Wadung Pal, Desa Tulungrejo, Kecamatan Glenmore, Banyuwangi, banyak didatangi warga untuk menyampaikan bela sungkawa kemarin (11/6/2015).
Keluarga besar korban, juga berkumpul dengan membaur bersama warga. Mereka berharap, jenazah putri pasangan Rosidi dan Hamidah itu bisa dimakamkan di pemakaman umum Desa Tulungrejo. “Angelina belum pernah datang ke Tulungrejo,” cetus Imamah (22), saudara sepupu Hamidah.
Angeline lahir saat kondisi ekonomi keluarga sedang terpuruk. Saat Hamidah hamil dan melahirkan Angelina, sedang bekerja di Bali. “Waktu Angelina lahir di rumah sakit, tidak ada biaya, lalu diambil oleh orang tua angkat itu,” ungkapnya.
Menurut Imamah, Hamidah itu memiliki empat anak dari dua suami. Sedang Angelina, itu anak kedua. “Anak pertama dibawa oleh suaminya di Banyuwangi, anak ketiga diasuh neneknya, dan keempat dibawa ke Bali,” urainya.
Sementara itu, nenek Angelina, Misyah, terlihat hanya diam. Sesekali menjawab pertanyaan para wartawan yang datang. Nenek ini berharap jenazah cucunya bisa dibawa pulang dan dimakamkan di pemakaman umum Desa Tulungrejo. “Dikubur di sini, saya minta pulang,” ucapnya.
Misyah mengaku sangat sedih dengan kepergian cucunya itu. Apalagi, sampai saat ini belum pernah tahu secara langsung. “Saya tahu saat ada polisi datang, mereka menanyakan keberadaan Angelina,” ungkapnya.
Dengan logat bahasa Madura yang kental, Misyah berharap pelaku pembunuhan sadis itu mendapat hukuman seberat-beratnya. “Yang bunuh harus dihukum berat,” pintanya.
Kisah tragis Angeline, bocah berusia delapan tahun yang ditemukan tewas di rumah orang tua angkatnya di Jl Sedap Malam, Sanur, Bali, mengundang iba pengurus Ikawangi Dewata. Ikawangi menyiapkan mobil ambulans untuk mengangkut jenazah Angeline ke Glenmore. Setelah proses forensik Polda Bali tuntas, orang tua Angeline minta jenazah anaknya dimakamkan di Banyuwangi.
Keluarga besar korban, juga berkumpul dengan membaur bersama warga. Mereka berharap, jenazah putri pasangan Rosidi dan Hamidah itu bisa dimakamkan di pemakaman umum Desa Tulungrejo. “Angelina belum pernah datang ke Tulungrejo,” cetus Imamah (22), saudara sepupu Hamidah.
Angeline lahir saat kondisi ekonomi keluarga sedang terpuruk. Saat Hamidah hamil dan melahirkan Angelina, sedang bekerja di Bali. “Waktu Angelina lahir di rumah sakit, tidak ada biaya, lalu diambil oleh orang tua angkat itu,” ungkapnya.
Menurut Imamah, Hamidah itu memiliki empat anak dari dua suami. Sedang Angelina, itu anak kedua. “Anak pertama dibawa oleh suaminya di Banyuwangi, anak ketiga diasuh neneknya, dan keempat dibawa ke Bali,” urainya.
Sementara itu, nenek Angelina, Misyah, terlihat hanya diam. Sesekali menjawab pertanyaan para wartawan yang datang. Nenek ini berharap jenazah cucunya bisa dibawa pulang dan dimakamkan di pemakaman umum Desa Tulungrejo. “Dikubur di sini, saya minta pulang,” ucapnya.
Misyah mengaku sangat sedih dengan kepergian cucunya itu. Apalagi, sampai saat ini belum pernah tahu secara langsung. “Saya tahu saat ada polisi datang, mereka menanyakan keberadaan Angelina,” ungkapnya.
Dengan logat bahasa Madura yang kental, Misyah berharap pelaku pembunuhan sadis itu mendapat hukuman seberat-beratnya. “Yang bunuh harus dihukum berat,” pintanya.
Kisah tragis Angeline, bocah berusia delapan tahun yang ditemukan tewas di rumah orang tua angkatnya di Jl Sedap Malam, Sanur, Bali, mengundang iba pengurus Ikawangi Dewata. Ikawangi menyiapkan mobil ambulans untuk mengangkut jenazah Angeline ke Glenmore. Setelah proses forensik Polda Bali tuntas, orang tua Angeline minta jenazah anaknya dimakamkan di Banyuwangi.

0 comments:
Post a Comment