Berita Budaya - AsliCirebon.com, Daerah di sekitar Keraton Kasepuhan Cirebon yang memiliki syarat akan nilai-nilai budaya dan khazanah lokal menyimpan potensi dalam mengisi konsep perencanaan pembangunan, khususnya untuk mempertahankan bangunan-bangunan pusaka budaya dan bisa menjadi sumber pengetahuan baru.
Namun khusus di
keraton kasepuhan, menurut Ina Helena Agustina, seorang Dosen Jurusan Teknik Perencanaan
wilayah dan kota Universitas Islam Bandung menilai ada hal yang berbeda. Ia
menilai, telah terjadi pergeseran dari praktik perencanaan
pembangunan yang mengutamakan nilai-nilai normatif simbol menuju perencanaan
yang bersifat pragmatis kebermanfaatan.
Dari hasil penelitiannya, Agustina mengatakan
kawasan budaya Keraton Kasepuhan memiliki struktur hierarki ruang berupa tiga
tingkatan pengaturan yakni ruang inti, ruang tengah dan ruang luar yang berbeda.
“Semakin mendekati inti maka semakin dikendalikan kegiatan yang diperkirakan mengurangi nilai ruang inti tersebut,” kata Agustina dalam ujian terbuka promosi doktor di Fakultas Teknik UGM, Rabu (17/6/2015) seperti yang dilansir dari situs UGM.
“Semakin mendekati inti maka semakin dikendalikan kegiatan yang diperkirakan mengurangi nilai ruang inti tersebut,” kata Agustina dalam ujian terbuka promosi doktor di Fakultas Teknik UGM, Rabu (17/6/2015) seperti yang dilansir dari situs UGM.
Sedangkan semakin keluar, maka diatur
integrasinya dengan sistem yang lebih makro dengan berintegrasi dengan
perencanaan kota cirebon atau kabupaten Cirebon. Dia mengatakan terdapat 12
sumber informasi ruang dalam kawasan keraton kasepuhan yakni ruang puncak
mahameru, ruang negaragung, ruang mancanegara, ruang pesisir, ruang tanah
sebrang, ruang astana gunung jati, ruang magersari, ruang lawangsanga, tradisi
esoterik, kepemimpinan Gusti Sepuh XIV, kegiatan wisata peziarahan, dan
kegiatan pernihakan putra Gusti Sepuh XIV.
Dari ke 12 unit informasi itu, bisa dibagi
menjadi 7 tema ruang, yakni ruang nyalon, ruang dialog, ruang keramat, ruang
pengembangan usaha, ruang ibadah berjamaah, ruang tawasulan, dan ruang bermukim
wargi.
Konsep ruang dalam kawasan keraton kasepuhan
saat ini diakui Ina mengalami gradasi dari ruang yang sudah ada. Gradasi
tersebut menunjukkan intensitas yang berbeda yang dipengaruhi oleh gerak mental
yang terjadi di ruang kesadaran manusia.
“Gradasi ruang dimulai dari ruang inti puncak
mahameru, negaragung, ruang mancanegara, ruang pesisir hingga ruang tanah
sebrang,” lanjutnya. Gradasi pergeseran itu ditunjukkan melalui
intensitas aktifitas yang terjadi di ruang tersebut. “Semakin ke luar semakin
menunjukkan intensitas maka kebermanfaatan yang semakin tinggi,” ujarnya.
Sehubungan adanya pergeseran makna ruang di
keraton kasepuhan ini, Ina berharap pemerintah pusat untuk mengevaluasi kembali
semua kebijakan yang berkaitan dengan pengaturan kawasan budaya.
Pasalnya setiap kawasan budaya memiliki
spesifikasi keunikan yang tidak dapat disamaratakan pengaturannya.
Dia juga meminta dukungan pemerintah daerah
untuk terus memberi dukungan kelangsungan eksistensi keraton kasepuhan Cirebon.
Alsannnya gerak mental raja dan komunitas adalah suatu tindakan yang memiliki nilai budaya lokal.
Sementara upaya Raja dan komunitas yang mempertahankan eksistensi ruang keraton
perlu diapresiasi.
Berita pilihan redaksi AsliCirebon.com:
- Soal Kasus Tabrak Lari di Cirebon, Ini Ancaman Hukuman Bagi si Pelaku
- Satu Anak Tewas, Dua Lainnya Luka Parah Diduga Akibat Terpental Rombongan Patwal di Cirebon
- Pelaku Tabrak Lari Hafidz di Cirebon, Inisial A Sudah Masuk Sel
- Soal Tabrak Lari, Polres Cirebon Tegaskan TKP di Wilayah Hukum Kota Cirebon
Berita pilihan redaksi AsliCirebon.com:
- Soal Kasus Tabrak Lari di Cirebon, Ini Ancaman Hukuman Bagi si Pelaku
- Satu Anak Tewas, Dua Lainnya Luka Parah Diduga Akibat Terpental Rombongan Patwal di Cirebon
- Pelaku Tabrak Lari Hafidz di Cirebon, Inisial A Sudah Masuk Sel
- Soal Tabrak Lari, Polres Cirebon Tegaskan TKP di Wilayah Hukum Kota Cirebon

0 comments:
Post a Comment