Latest News
Thursday, June 18, 2015

Dosen UIB Sebut Ada yang Bergeser Pada Nilai Budaya Bangunan Kasepuhan Cirebon


Berita Budaya - AsliCirebon.com, Daerah di sekitar Keraton Kasepuhan Cirebon yang memiliki syarat akan nilai-nilai budaya dan khazanah lokal menyimpan potensi dalam mengisi konsep perencanaan pembangunan, khususnya untuk mempertahankan bangunan-bangunan pusaka budaya dan bisa menjadi sumber pengetahuan baru.

Namun khusus di keraton kasepuhan, menurut Ina Helena Agustina, seorang Dosen Jurusan Teknik Perencanaan wilayah dan kota Universitas Islam Bandung menilai ada hal yang berbeda. Ia menilai, telah terjadi pergeseran dari praktik perencanaan pembangunan yang mengutamakan nilai-nilai normatif simbol menuju perencanaan yang bersifat pragmatis  kebermanfaatan.

Dari hasil penelitiannya, Agustina mengatakan kawasan budaya Keraton Kasepuhan memiliki struktur hierarki ruang berupa tiga tingkatan pengaturan yakni ruang inti, ruang tengah dan ruang luar yang berbeda.

“Semakin mendekati inti maka semakin dikendalikan kegiatan yang diperkirakan mengurangi nilai ruang inti tersebut,” kata  Agustina dalam ujian terbuka promosi doktor di Fakultas Teknik UGM, Rabu (17/6/2015) seperti yang dilansir dari situs UGM.

Sedangkan semakin keluar, maka diatur integrasinya dengan sistem yang lebih makro dengan berintegrasi dengan perencanaan kota cirebon atau kabupaten Cirebon. Dia mengatakan terdapat 12 sumber informasi ruang dalam kawasan keraton kasepuhan yakni ruang puncak mahameru, ruang negaragung, ruang mancanegara, ruang pesisir, ruang tanah sebrang, ruang astana gunung jati, ruang magersari, ruang lawangsanga, tradisi esoterik, kepemimpinan Gusti Sepuh XIV, kegiatan wisata peziarahan, dan kegiatan pernihakan putra Gusti Sepuh XIV.

Dari ke 12 unit informasi itu, bisa dibagi menjadi 7 tema ruang, yakni ruang nyalon, ruang dialog, ruang keramat, ruang pengembangan usaha, ruang ibadah berjamaah, ruang tawasulan, dan ruang bermukim wargi.
Konsep ruang dalam kawasan keraton kasepuhan saat ini diakui Ina mengalami gradasi dari ruang yang sudah ada. Gradasi tersebut menunjukkan intensitas yang berbeda yang dipengaruhi oleh gerak mental yang terjadi di ruang kesadaran manusia.

“Gradasi ruang dimulai dari ruang inti puncak mahameru, negaragung, ruang mancanegara, ruang pesisir hingga ruang tanah sebrang,” lanjutnya. Gradasi pergeseran itu ditunjukkan melalui intensitas aktifitas yang terjadi di ruang tersebut. “Semakin ke luar semakin menunjukkan intensitas maka kebermanfaatan yang semakin tinggi,” ujarnya.

Sehubungan adanya pergeseran makna ruang di keraton kasepuhan ini, Ina berharap pemerintah pusat untuk mengevaluasi kembali semua kebijakan yang berkaitan dengan pengaturan kawasan budaya.
Pasalnya setiap kawasan budaya memiliki spesifikasi keunikan yang tidak dapat disamaratakan pengaturannya.   

Dia juga meminta dukungan pemerintah daerah untuk terus memberi dukungan kelangsungan eksistensi keraton kasepuhan Cirebon. Alsannnya gerak mental raja dan komunitas adalah suatu tindakan yang memiliki nilai budaya lokal. Sementara upaya Raja dan komunitas yang mempertahankan eksistensi ruang keraton perlu diapresiasi.

Berita pilihan redaksi AsliCirebon.com:
- Soal Kasus Tabrak Lari di Cirebon, Ini Ancaman Hukuman Bagi si Pelaku 
- Satu Anak Tewas, Dua Lainnya Luka Parah Diduga Akibat Terpental Rombongan Patwal di Cirebon 
- Pelaku Tabrak Lari Hafidz di Cirebon, Inisial A Sudah Masuk Sel 
- Soal Tabrak Lari, Polres Cirebon Tegaskan TKP di Wilayah Hukum Kota Cirebon 
  • Blogger Comments
  • Facebook Comments

0 comments:

Post a Comment

Item Reviewed: Dosen UIB Sebut Ada yang Bergeser Pada Nilai Budaya Bangunan Kasepuhan Cirebon Rating: 5 Reviewed By: Santosa Blogger Cirebon