Opini - AsliCirebon.com, Sebentar lagi pintu gerbang Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) bakal dibuka selebar-lebarnya. Tahun ini, Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) siap diimplementasikan per 31 Desember 2015.
Semua berharap ini membawa perubahan bagi negeri menuju arah yang lebih baik. Sebenarnya MEA bertujuan menciptakan pasar tunggal dan basis produksi yang ditandai dengan aliran barang, jasa, investasi, tenaga kerja terampil, serta perpindahan barang modal secara lebih bebas.
MEA di Sektor Sumber Daya Alam
Mau atau tidak mau, kerjasama yang disepakati di KTT ASEAN Bali pada tahun 2003 meliputi integrasi sejumlah sektor seperti produk pertanian, otomotif, elektronik, perikanan, turunan dari karet, tekstil, dan pakaian sudah disetujui oleh pemerintah pusat pada masa itu. Bukan hanya itu, kita pun bersiap dengan bebasnya produk turunan dari kayu, transportasi udara, kesehatan, pariwisata, serta logistik. Pelaksanaan MEA menuntut liberalisasi perdagangan, investasi, finansial, jasa, industri, pertanian, perikanan dan sektor-sektor lainnya.
MEA di Sektor Sumber Daya Manusia
Pada akhir tahun 2015 akan melanda semua sektor yang membutuhkan dukungan sumber daya manusia (SDM) memadai. Kesiapan SDM melahirkan pengusaha muda untuk menghadapi MEA, waktunya sangat mepet. Meski penduduk mencapai sekitar 250 juta jiwa dengan kekayaan sumber daya alam yang berlimpah, jumlah pengusaha muda nasional masih jauh di bawah angka ideal.
Saat ini, rasio pengusaha muda Indonesia hanya sekitar 1,6 persen atau 3,7 juta dari total penduduk. Dari 1,6 persen itu jumlah pengusaha di bawah 40 tahun hanya 0,8 persen. Ini tentu sangat memprihatinkan. Kekurangan pengusaha muda akan menyebabkan Indonesia selalu lambat berubah. Jangan heran jika bumi Nusantara hanya akan menjadi pasar dari produk-produk asing.
Antara Peluang dan Ancaman
Sebenarnya peluang kita dalam memproduksi bahan-bahan kebutuhan dan "keinginan" sangat potensial jika dilihat dari jumlah sumber daya manusia. Namun masih disayangkan, pemerintah masih belum bisa membantu banyak kepada para perusahaan yang mau mengirimkan produknya ke pasar global. Karena masih banyak oknum-oknum liar di pintu ekspor ke luar negeri.
Banyak kasus para pebisnis yang "hilang uangnya" saat mencoba mengirimkan produknya ke luar negeri karena proses berbelitnya di kawasan "perairan" kita. Sedangkan gelombang mengerikan impor dari Cina pun bakal masuk di MEA. Lihat saja, belum genap dibuka MEA, impor pakaian bekas sudah mulai ramai di pasar lokal kita. Bagaimana nanti saat 1 Januari 2015? Bisa-bisa masyarakat lokal akan ikut mengimpor "sampah" dari Cina lagi, mengingat hanya Cina lah yang memiliki banyak penduduk yang bakal membuang pakaian bekas mereka untuk kita. Demi harga "murah" dan masih "berkelas" sangat miris memang.
Apa yang Kita Lihat di Cirebon?
Bukan hal yang tidak mungkin, kehadiran banyaknya Mall baru, Hotel baru, Pembangkit Listrik baru, perusahaan baru dan pabrik baru di Cirebon merupakan tanda - tanda MEA akan terjadi di Cirebon. Wacana untuk mengembangkan pelabuhan Cirebon pun semakin santer.
Cirebon adalah kota yang bakal dipersiapkan menjadi kota metropolitan melalui MEA. Masyarakat daerah harus memahami ini, bahwa siap atau tidak kota ini bakal menjadi kota yang besar jika benar-benar Pelabuhan Cirebon akan "dibesarkan".
Namun yang masih menjadi pertanyaan adalah, sejauh mana masyarakat telah mempersiapkan MEA ini menjadi sebuah peluang kita masing-masing, bukan malah menjadi ancaman.
Penulis adalah Santosa, lulusan sarjana Pendidikan Ekonomi Universitas Swadaya Gunung Jati
Semua berharap ini membawa perubahan bagi negeri menuju arah yang lebih baik. Sebenarnya MEA bertujuan menciptakan pasar tunggal dan basis produksi yang ditandai dengan aliran barang, jasa, investasi, tenaga kerja terampil, serta perpindahan barang modal secara lebih bebas.
MEA di Sektor Sumber Daya Alam
Mau atau tidak mau, kerjasama yang disepakati di KTT ASEAN Bali pada tahun 2003 meliputi integrasi sejumlah sektor seperti produk pertanian, otomotif, elektronik, perikanan, turunan dari karet, tekstil, dan pakaian sudah disetujui oleh pemerintah pusat pada masa itu. Bukan hanya itu, kita pun bersiap dengan bebasnya produk turunan dari kayu, transportasi udara, kesehatan, pariwisata, serta logistik. Pelaksanaan MEA menuntut liberalisasi perdagangan, investasi, finansial, jasa, industri, pertanian, perikanan dan sektor-sektor lainnya.
MEA di Sektor Sumber Daya Manusia
Pada akhir tahun 2015 akan melanda semua sektor yang membutuhkan dukungan sumber daya manusia (SDM) memadai. Kesiapan SDM melahirkan pengusaha muda untuk menghadapi MEA, waktunya sangat mepet. Meski penduduk mencapai sekitar 250 juta jiwa dengan kekayaan sumber daya alam yang berlimpah, jumlah pengusaha muda nasional masih jauh di bawah angka ideal.
Saat ini, rasio pengusaha muda Indonesia hanya sekitar 1,6 persen atau 3,7 juta dari total penduduk. Dari 1,6 persen itu jumlah pengusaha di bawah 40 tahun hanya 0,8 persen. Ini tentu sangat memprihatinkan. Kekurangan pengusaha muda akan menyebabkan Indonesia selalu lambat berubah. Jangan heran jika bumi Nusantara hanya akan menjadi pasar dari produk-produk asing.
Antara Peluang dan Ancaman
Sebenarnya peluang kita dalam memproduksi bahan-bahan kebutuhan dan "keinginan" sangat potensial jika dilihat dari jumlah sumber daya manusia. Namun masih disayangkan, pemerintah masih belum bisa membantu banyak kepada para perusahaan yang mau mengirimkan produknya ke pasar global. Karena masih banyak oknum-oknum liar di pintu ekspor ke luar negeri.
Banyak kasus para pebisnis yang "hilang uangnya" saat mencoba mengirimkan produknya ke luar negeri karena proses berbelitnya di kawasan "perairan" kita. Sedangkan gelombang mengerikan impor dari Cina pun bakal masuk di MEA. Lihat saja, belum genap dibuka MEA, impor pakaian bekas sudah mulai ramai di pasar lokal kita. Bagaimana nanti saat 1 Januari 2015? Bisa-bisa masyarakat lokal akan ikut mengimpor "sampah" dari Cina lagi, mengingat hanya Cina lah yang memiliki banyak penduduk yang bakal membuang pakaian bekas mereka untuk kita. Demi harga "murah" dan masih "berkelas" sangat miris memang.
Apa yang Kita Lihat di Cirebon?
Bukan hal yang tidak mungkin, kehadiran banyaknya Mall baru, Hotel baru, Pembangkit Listrik baru, perusahaan baru dan pabrik baru di Cirebon merupakan tanda - tanda MEA akan terjadi di Cirebon. Wacana untuk mengembangkan pelabuhan Cirebon pun semakin santer.
Cirebon adalah kota yang bakal dipersiapkan menjadi kota metropolitan melalui MEA. Masyarakat daerah harus memahami ini, bahwa siap atau tidak kota ini bakal menjadi kota yang besar jika benar-benar Pelabuhan Cirebon akan "dibesarkan".
Namun yang masih menjadi pertanyaan adalah, sejauh mana masyarakat telah mempersiapkan MEA ini menjadi sebuah peluang kita masing-masing, bukan malah menjadi ancaman.
Penulis adalah Santosa, lulusan sarjana Pendidikan Ekonomi Universitas Swadaya Gunung Jati
0 comments:
Post a Comment